Saturday, November 27, 2010

Mengkhususkan Dua Hari Raya Dan Hari Jumaat Untuk Ziarah Kubur


Pertanyaan: Apa hukum mengkhususkan dua hari raya dan hari Jumaat untuk ziarah kubur? Dan apakah ziarah itu boleh untuk orang-orang yang masih hidup atau hanya untuk yang telah meninggal?

Jawapan: Ini tidak ada dasarnya. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari Idul Fitri dan meyakininya bahawa hal itu disyariatkan, di anggap sebagai perbuatan bidaah, karena hal ini tidak bersumber dari Nabi dan tidak diketahui dari seorang ahli ilmu pun yang ber pendapat begitu. Adapun hari Jumaat, beberapa ulama menyebutkan, bahawa sebaiknya ziarah itu pada hari Jumaat, namun para ulama itu tidak menyebutkan atsar yang bersumber dari Rasulullah SAW menge nai hal ini.
(Syaikh Ibnu Utsaimin)

Pertanyaan: Di desa kami, pada malam Idul Fitri atau Idul Adha, ketika orang-orang sudah tahu bahawa besok hari raya, mereka pergi ke kuburan pada malam tersebut dan menyalakan lilin (atau pelita) di kuburan-kuburan kerabat mereka dengan mengundang tokoh-tokoh untuk membacakan al-Quran di situ. Apakah perbuatan ini dibenar kan?

Jawapan: Perbuatan ini batil dan haram serta menjadi penye bab laknat Allah SWT karena Nabi SAW telah melaknat para wanita penziarah kubur dan orang-orang yang mendirikan masjid di atas kuburan dan menempatkan lentera (lampu). Kemudian tentang pergi ke kuburan pada malam raya walaupun bertujuan untuk menziarahinya, tapi ini merupakan perbuatan bidaah, karena tidak pernah ada contoh dari Nabi SAW bahawa beliau mengkhususkan malam hari raya ataupun hari rayanya untuk menziarahi kuburan, sementara telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi SAW, bahawa beliau bersabda,

18 k

"Hendaklah kalian menjauhi hal-hal baru yang diada-adakan, karena setiap hal baru yang diada-adakan adalah bidaah dan setiap bidaah adalah kese satan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka."

Dari itu, hendaknya seseorang berhati-hati di dalam ibadahnya dan setiap apa saja yang dilakukannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, hendaknya ia berusaha bersungguh-sungguh untuk mengamal kan syariat Allah SWT dalam hal itu, karena asal semua ibadah itu terlarang dan dicegah kecuali ada dalil yang mensyariatkannya. Adapun tentang menerangi kuburan pada malam hari raya, sebagai mana ditanyakan oleh penanya, ada dalil yang melarangnya dan menyebutkan bahawa perbuatan ini termasuk dosa besar sebagaimana yang telah disebutkan tadi yang berasal dari Nabi SAW, bahawa beliau melaknat para wanita penziarah kubur dan orang-orang yang men dirikan masjid di atas kuburan dan menempatkan lentera-lentera (lampu) di atasnya.
(Fatawa Islamiyah, 2/57, Syaikh Ibnu Utsaimin)


No comments:

Post a Comment